Membangun Kesadaran Akan Pentingnya
Pangan Halal
Analisis Tetra
Perspektif Dinamika Produk Pangan Halal dalam Cakupan Interkontinental
Rahadian Muslim
Program Studi
Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik
Pertambangan dan Perminyakan
Institut
Teknologi Bandung
Keluarga
Mahasiswa Muslim Teknologi Pertanian
Universitas
Gadjah Mada
Analisis Tetra
Perspektif Dinamika Produk Pangan Halal dalam Cakupan Interkontinental
Jumlah populasi umat muslim di dunia
mencapai 1,8 miliar jiwa atau sekita 23% dari total penduduk dunia. Hal
tersebut melahirkan sebuah pasar baru terutama dalam bidang pangan sebagai
salah satu kebutuhan primer manusia. Jika dilihat lebih detail ke dalam wilayah
ASEAN, permintaan akan ketersediaan bahan pangan yang berkualitas semakin
meningkat. Jika ditinjau dari satu komoditi,seperti daging, saat ini konsumsi
daging per kapita di Indonesia mencapai 4 kilogram per tahun. Jika
diproyeksikan pada 7-8 tahun ke depan konsumsi per kapita daging akan meningkat
menjadi 8 kilogram per tahun. Artinya akan ada peningkatan pola konsumsi
seseorang terhadap daging dari 4 kilogram menjadi 8 kilogram setiap tahunnya.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan
disposable income akan diikuti oleh meningkatnya awareness atau kesadaran akan
kebutuhan panganan Halal. Dengan kata lain, penjualan produk pangan halal
seperti daging akan mengalami peningkatan secara eksponensial. Ternyata
fenomena ini telah jauh-jauh hari diamati oleh retail besar Uni Eropa, sebut
saja Carrefour dan TESCO yang saat ini mulai menempatkan produk pangan halal
dalam etalase dagangnya. Hal ini merupakan implikasi yang logis mengingat bukan
hanya masyarakat muslim saja yang mengonsumsi panganan halal, masyarakat non
muslim pun banyak yang mulai tertarik mengonsumsi panganan halal. Seperti
konsumen non muslin di Belanda yang mulai menggandrungi produk panganan halal
sehingga meningkatkan total permintaan terhadap produk tersebut sampai
menyentuh angka fantastis, 3 miliar dolar Amerika.
Kini halal tidak saja menjadi kebutuhan
umat muslim, tetapi menjadi kebutuhan global seiring dengan meningkatknya
konsumsi dan permintaan terhadap panganan
yang halal. Hal tersebut merupakan salah satu indikator bahwa panganan
halal memiliki standar yang sangat baik sehingga dipercaya oleh konsumen global. Hal tersebut yang
mendasari penulis menuangkan gagasan berupa tetra perspektif terhadap
perkembangan dan dinamika produk pangan halal. Analisis tetra perspektif
tersebut berupa analisis terhadap rantai suplai, ketahanan pangan, efektivitas
vista, dan sustainabilitas produk pangan halal. Keempat perspektif analisis ini
akan menghadirkan solusi-soulusi terhadap perkembangan, permasalahan, dan
tantangan yang dihadapi oleh dinamika produk pangan halal dalam cakupan wilayah
yang meluas secara gradual dari geopolitik nasional, regional, dan internasional
(interkontinental.
Analisis Manajemen
Rantai Suplai (Supply Chain Manajement Analysis)
Manajemen rantai suplai merupakan
serangkaian proses yang terintegrasi yang dilalui oleh suatu produk dari tahap
mendapatkan bahan baku sampai kemudian ada di tangan konsumen sebagai sebuah
produk yang siap di konsumsi. Menurut Schroeder
(2003), Supply Chain Management sendiri adalah perencanaan desain, dan
kontrol aliran informasi dan baraang sepanjang rantai pasokan yang bertujuan
untuk memenuhi persyaratan kebutuhan dari pelanggan secara efisien untuk masa
sekarang dan masa yang akan datang. Tentu keberadaan produk halal tidak
terlepas dari srangkaian proses supply chain management yang harus dilalui
untuk tetap menjamin mutu dan standar halal itu sendiri.
Integritas kehalalan suatu produk
merupakan hal penting yang harus dijaga amat baik. Halal atau tidaknya suatu
produk menyangkut aspek yang paling penting, yaitu ketaatan beragama. Ketika
terjadi kesalahan yang melanggar syariat islam dalam proses manajemen rantai
suplai, maka dapat dipastikan produk tersebut sudah terganggu kehalalannya.
Merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga integritas kehalalan tersebut.
Oleh karena itu, proses manajemen rantai suplai untuk makanan halal harus
melaluli tahap 5+1. Tahap 5+1 tersebut diantaranya adalah input peternakan,
peternakan, manufakturing, pengemasan dan distribusi, retail dan pelayanan,
serta +1 yang juga penting adalah mengenai halal logistik.
Penulis memperdalam analisis dengan
mengambil contoh produk daging dalam kaleng, melalui tahap 5+1 yang pertama
kali harus diperhatikan adalah mengenai input peternakan seperti pakan yang
diberikan untuk ternak harus dijamin kehalalannya dan memiliki kandungan
nutrisi baik yang berguna untuk perkembangan hewan tersebut. Setelah itu proses
peternakan harus diperhatikan dari segi lokasi yang bebas dari perkembangan
penyakit, perawatan yang tidak mengandung unsur siksaan, pengecekkan kondisi
hewan secara berkala, dan penyembelihan sesuai dengan syariat agama Islam.
Selanjutnya proses manufakturing juga penting untuk diperhatikan misalnya
mengenai pengemasan produk, pendinginan, dan pengawetan. Proses berikutnya
berupa retail dan pelayanan harus menjamin bahwa produk didistribusikan baik
sampai ke supermarket, grosir, restoran, serta tidak terkontaminasi atau
tercampur dengan produk non halal.Proses +1 yang juga tidak kalah penting
adalah mengenai proses logistik yang terdiri dari manajemen pengadaan barang,
perpindahan, distribusi, penyimpanan produk, melalui rantai suplai yang
terorganisir berdasarkan prinsip hukum Syariah. Semua proses dan prosedur
tersebut adalah untuk mewujudkan zero
contamination[1]
atau terbebasnya produk halal dari zat-zat atau prosedur yang membuat produk
tersebut tidak halal.
Analisis
Ketahanan Pangan (Food Security Analysis)
Berdasarkan data Global Hunger Index
2009, tingkat malnutrisi yang terjadi di Asia Pasifik telah mencapai angka 32%
hal tersebut menjadikan Asia dan Pasifik sebagai wilayah dengan jumlah penduduk
malnutrisi terbanyak di dunia. Salah satu penyebabnya adalah tingginya harga
komoditas pangan dunia sebagai implikasi dari repetisi krisis pangan dunia yang
terjadi pada tahun 2007-2008. Hal tersebut menjadi sebuah indikasi bahwa sudah
saatnya negara-negara di dunia melalukan diversifikasi pangan. Banyak cara yang
dapat ditempuh untuk mewujudkan diversifikasi pangan, salah satunya adalah
dengan mengembangkan market global untuk produk pangan halal.
Pengembangan market global produk halal
juga merupakan sebuah momentum emas bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan
indusri halal. Indonesia, sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim
dapat menjadi ssalah satu negara eksportir produk pangan halal misalnya ke
negara-negara di Timur Tengah yang membutuhkan alternatif pangan sehingga
selain dapat memenuhi kebutuhan domestik, pengembangan halal industri juga
mampu memenuhi market global. Seperti halnya filipina yang telah berhasil
melakukan ekspor daging ayam ke Timur Tengah,
Keberadaan protokol keamanan untuk
produk halal yang dipasarkan dalam skala global juga perlu diatur dalam hukum
internasional. Dengan terjaminnya kehalalan suatu produk melalui protokol
pengawasan dan penjamin kehalalan, maka akan menimbulkan trans atau kepercayaan
pasar terhadap produk halal sehingga membuat produk halal menjadi mainstream dan dapat diterima dengan
baik oleh pasar. Pada akhirnya, market global dari produk halal dapat membantu
menyelesaikan persoalan mengenai diversifikasi pangan, distribusi pangan
bergizi, dan trans konsumen/pasar terhadap produk pangan halal.
Analisis Efektivitas
Vista (Vista Efectiveness Analysis)
Analisis
kecepatan vista merupakan analisis terhadap efisiensi dan efektivitas
penyebaran produk halal di seluruh dunia. Ketersediaan bahan pangan yang
terbatas, permintaan yang melebihi ketersediaan pangan, kelangkaan-kelangkaan
suatu komoditas pangan, protokol keamanan di suatu daerah membuat produk halal
tidak sepenuhnya terdistribusi dengan baik. Itulah sebabnya kadang kita sulit
menemukan produk pangan halal di negara-negara yang mayoritas penduduknya tidak
memeluk agama Islam. Padahal kebutuhan akan pangan halal bersifat urgen dan
tidak dapat digantikan kecuali memang dalam keadaan-keadaan yang memang
darurat.
Berdasarkan
permasalahan tersebut, diperlukan sebuah lembaga terintegrasi dan netral untuk
mengatur distribusi produk pangan halal di seluruh dunia. Agar tidak terjadi
penumpukan produk pangan halal di suatu daerah dan kelangkaan di daerah
lainnya. Lembaga ini harus terintegrasi karena menyangkut kepentingan sebaran
produk halal di berbagai wilayah sehingga harus mencakup kontrol seluruh
wilayah di dunia sedangkan netralitas diperlukan agar tidak ada intervensi dan
keberpihakan terhadap suatu daerah misalnya dengan melebihi atau membatasi stok
produk pangan halal untuk suatu wilayah. Tujuan akhirnya adalah untuk membuat
produk pangan halal menjadi produk yang membumi, dikenal oleh masyarakat, dan
dipercaya kualitasnya.
Analisis Sustainabilitas
Produk Pangan Halal
Perkembangan
produk pangan halal telah menjadi salah satu perhatian dunia. Keberadaannya
yang menyangkut dengan syariah atau tuntutan agama membuat produk pangan halal
menjadi salah satu produk penting yang harus memiliki ketahanan. Maksud dari
ketahanan tersebut adalah terjaminnya integritas dan kualitas kehalalan dari
produk tersebut sehingga tidak mencederai agama, serta ketersediaan pasokan
yang mampu memenuhi kebutuhan umat muslim dan umat yang mempercayai produk
pangan halal tersebut di seluruh dunia.
Perkembangan
produk pangan halal yang tumbuh pesat merupakan sinyal yang baik untuk mulai
memasyarakatkan produk halal agar suatu saat nanti produk halal tidak hanya
dianggap sebagai produk yang memenuhi standar syariah agama Islam saja, tapi
memang produk yang paripurna, berkualitas, dan memiliki keunggulan dibandingkan
dengan produk tanpa label halal. Oleh karena itu, sustainabilitas atau ketahanan
produk pangan halal di dunia perlu dijaga dengan baik agar mampu memenuhi
permintaan-permintaan konsumen dan dapat menjawab tantangan serta permasalahan
pangan di dunia.
Pada
akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa segala proses yang menyangkut dinamika
perkembangan produk pangan halal dalam wilayah interkontinental (dalam cakupan
nasional, regional, dan internasional) perlu diperhatikan dengan sangat baik melalui
analisis tetra perspektif dari segi manajemen rantai suplai, ketahanan pangan,
efektivitas vista, dan sustainabilitas agar suatu saat nanti produk pangan
halal dapat memenuhi kebutuhan domestik dan global sebagai implikasi logis dari
meningkatnya trans atau kepercayaan, kebutuhan, dan kesadaran masyarakat global
mengenai pentingnya, berkualitasnya, dan baiknya produk pangan halal.
DAFTAR PUSTAKA
Indrajit, Richardus Eko dan
Djokopranoto.(2003). Konsep Manajemen
Supply Chain:Strategi Mengelola anajemen Rantai Pasokan Bagi Perusahaan Modern
di Indonesia, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
[7] Indri Gautama &
Djoko
Ross, F. D. (2003). Introduction to e-supply chain
management:engaging technology to build market-winning businesspartnership.United
States of America: ST. Lucie Press.
[1] Dr.
Ahmad Robin Wahab, Guidelines For The Preparation Of Halal Food And Goods For
The Muslim Consumers
Tidak ada komentar:
Posting Komentar