Jumat, 03 Oktober 2014

Analisis Tetra Perspektif Dinamika Produk Pangan Halal dalam Cakupan Interkontinental

Membangun Kesadaran Akan Pentingnya Pangan Halal
Analisis Tetra Perspektif Dinamika Produk Pangan Halal dalam Cakupan Interkontinental

Rahadian Muslim
Program Studi Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan
Institut Teknologi Bandung
Keluarga Mahasiswa Muslim Teknologi Pertanian
Universitas Gadjah Mada


Analisis Tetra Perspektif Dinamika Produk Pangan Halal dalam Cakupan Interkontinental
Jumlah populasi umat muslim di dunia mencapai 1,8 miliar jiwa atau sekita 23% dari total penduduk dunia. Hal tersebut melahirkan sebuah pasar baru terutama dalam bidang pangan sebagai salah satu kebutuhan primer manusia. Jika dilihat lebih detail ke dalam wilayah ASEAN, permintaan akan ketersediaan bahan pangan yang berkualitas semakin meningkat. Jika ditinjau dari satu komoditi,seperti daging, saat ini konsumsi daging per kapita di Indonesia mencapai 4 kilogram per tahun. Jika diproyeksikan pada 7-8 tahun ke depan konsumsi per kapita daging akan meningkat menjadi 8 kilogram per tahun. Artinya akan ada peningkatan pola konsumsi seseorang terhadap daging dari 4 kilogram menjadi 8 kilogram setiap tahunnya.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, peningkatan disposable income akan diikuti oleh meningkatnya awareness atau kesadaran akan kebutuhan panganan Halal. Dengan kata lain, penjualan produk pangan halal seperti daging akan mengalami peningkatan secara eksponensial. Ternyata fenomena ini telah jauh-jauh hari diamati oleh retail besar Uni Eropa, sebut saja Carrefour dan TESCO yang saat ini mulai menempatkan produk pangan halal dalam etalase dagangnya. Hal ini merupakan implikasi yang logis mengingat bukan hanya masyarakat muslim saja yang mengonsumsi panganan halal, masyarakat non muslim pun banyak yang mulai tertarik mengonsumsi panganan halal. Seperti konsumen non muslin di Belanda yang mulai menggandrungi produk panganan halal sehingga meningkatkan total permintaan terhadap produk tersebut sampai menyentuh angka fantastis, 3 miliar dolar Amerika.
Kini halal tidak saja menjadi kebutuhan umat muslim, tetapi menjadi kebutuhan global seiring dengan meningkatknya konsumsi dan permintaan terhadap panganan  yang halal. Hal tersebut merupakan salah satu indikator bahwa panganan halal memiliki standar yang sangat baik sehingga  dipercaya oleh konsumen global. Hal tersebut yang mendasari penulis menuangkan gagasan berupa tetra perspektif terhadap perkembangan dan dinamika produk pangan halal. Analisis tetra perspektif tersebut berupa analisis terhadap rantai suplai, ketahanan pangan, efektivitas vista, dan sustainabilitas produk pangan halal. Keempat perspektif analisis ini akan menghadirkan solusi-soulusi terhadap perkembangan, permasalahan, dan tantangan yang dihadapi oleh dinamika produk pangan halal dalam cakupan wilayah yang meluas secara gradual dari geopolitik nasional, regional, dan internasional (interkontinental.


Analisis Manajemen Rantai Suplai (Supply Chain Manajement Analysis)
Manajemen rantai suplai merupakan serangkaian proses yang terintegrasi yang dilalui oleh suatu produk dari tahap mendapatkan bahan baku sampai kemudian ada di tangan konsumen sebagai sebuah produk yang siap di konsumsi. Menurut Schroeder  (2003), Supply Chain Management sendiri adalah perencanaan desain, dan kontrol aliran informasi dan baraang sepanjang rantai pasokan yang bertujuan untuk memenuhi persyaratan kebutuhan dari pelanggan secara efisien untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Tentu keberadaan produk halal tidak terlepas dari srangkaian proses supply chain management yang harus dilalui untuk tetap menjamin mutu dan standar halal itu sendiri.  
Integritas kehalalan suatu produk merupakan hal penting yang harus dijaga amat baik. Halal atau tidaknya suatu produk menyangkut aspek yang paling penting, yaitu ketaatan beragama. Ketika terjadi kesalahan yang melanggar syariat islam dalam proses manajemen rantai suplai, maka dapat dipastikan produk tersebut sudah terganggu kehalalannya. Merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga integritas kehalalan tersebut. Oleh karena itu, proses manajemen rantai suplai untuk makanan halal harus melaluli tahap 5+1. Tahap 5+1 tersebut diantaranya adalah input peternakan, peternakan, manufakturing, pengemasan dan distribusi, retail dan pelayanan, serta +1 yang juga penting adalah mengenai halal logistik.
Penulis memperdalam analisis dengan mengambil contoh produk daging dalam kaleng, melalui tahap 5+1 yang pertama kali harus diperhatikan adalah mengenai input peternakan seperti pakan yang diberikan untuk ternak harus dijamin kehalalannya dan memiliki kandungan nutrisi baik yang berguna untuk perkembangan hewan tersebut. Setelah itu proses peternakan harus diperhatikan dari segi lokasi yang bebas dari perkembangan penyakit, perawatan yang tidak mengandung unsur siksaan, pengecekkan kondisi hewan secara berkala, dan penyembelihan sesuai dengan syariat agama Islam. Selanjutnya proses manufakturing juga penting untuk diperhatikan misalnya mengenai pengemasan produk, pendinginan, dan pengawetan. Proses berikutnya berupa retail dan pelayanan harus menjamin bahwa produk didistribusikan baik sampai ke supermarket, grosir, restoran, serta tidak terkontaminasi atau tercampur dengan produk non halal.Proses +1 yang juga tidak kalah penting adalah mengenai proses logistik yang terdiri dari manajemen pengadaan barang, perpindahan, distribusi, penyimpanan produk, melalui rantai suplai yang terorganisir berdasarkan prinsip hukum Syariah. Semua proses dan prosedur tersebut adalah untuk mewujudkan zero contamination[1] atau terbebasnya produk halal dari zat-zat atau prosedur yang membuat produk tersebut tidak halal.
Analisis Ketahanan Pangan (Food Security Analysis)
Berdasarkan data Global Hunger Index 2009, tingkat malnutrisi yang terjadi di Asia Pasifik telah mencapai angka 32% hal tersebut menjadikan Asia dan Pasifik sebagai wilayah dengan jumlah penduduk malnutrisi terbanyak di dunia. Salah satu penyebabnya adalah tingginya harga komoditas pangan dunia sebagai implikasi dari repetisi krisis pangan dunia yang terjadi pada tahun 2007-2008. Hal tersebut menjadi sebuah indikasi bahwa sudah saatnya negara-negara di dunia melalukan diversifikasi pangan. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk mewujudkan diversifikasi pangan, salah satunya adalah dengan mengembangkan market global untuk produk pangan halal.
Pengembangan market global produk halal juga merupakan sebuah momentum emas bagi bangsa Indonesia untuk mengembangkan indusri halal. Indonesia, sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim dapat menjadi ssalah satu negara eksportir produk pangan halal misalnya ke negara-negara di Timur Tengah yang membutuhkan alternatif pangan sehingga selain dapat memenuhi kebutuhan domestik, pengembangan halal industri juga mampu memenuhi market global. Seperti halnya filipina yang telah berhasil melakukan ekspor daging ayam ke Timur Tengah,
Keberadaan protokol keamanan untuk produk halal yang dipasarkan dalam skala global juga perlu diatur dalam hukum internasional. Dengan terjaminnya kehalalan suatu produk melalui protokol pengawasan dan penjamin kehalalan, maka akan menimbulkan trans atau kepercayaan pasar terhadap produk halal sehingga membuat produk halal menjadi mainstream dan dapat diterima dengan baik oleh pasar. Pada akhirnya, market global dari produk halal dapat membantu menyelesaikan persoalan mengenai diversifikasi pangan, distribusi pangan bergizi, dan trans konsumen/pasar terhadap produk pangan halal.
Analisis Efektivitas Vista (Vista Efectiveness Analysis)
            Analisis kecepatan vista merupakan analisis terhadap efisiensi dan efektivitas penyebaran produk halal di seluruh dunia. Ketersediaan bahan pangan yang terbatas, permintaan yang melebihi ketersediaan pangan, kelangkaan-kelangkaan suatu komoditas pangan, protokol keamanan di suatu daerah membuat produk halal tidak sepenuhnya terdistribusi dengan baik. Itulah sebabnya kadang kita sulit menemukan produk pangan halal di negara-negara yang mayoritas penduduknya tidak memeluk agama Islam. Padahal kebutuhan akan pangan halal bersifat urgen dan tidak dapat digantikan kecuali memang dalam keadaan-keadaan yang memang darurat.
            Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan sebuah lembaga terintegrasi dan netral untuk mengatur distribusi produk pangan halal di seluruh dunia. Agar tidak terjadi penumpukan produk pangan halal di suatu daerah dan kelangkaan di daerah lainnya. Lembaga ini harus terintegrasi karena menyangkut kepentingan sebaran produk halal di berbagai wilayah sehingga harus mencakup kontrol seluruh wilayah di dunia sedangkan netralitas diperlukan agar tidak ada intervensi dan keberpihakan terhadap suatu daerah misalnya dengan melebihi atau membatasi stok produk pangan halal untuk suatu wilayah. Tujuan akhirnya adalah untuk membuat produk pangan halal menjadi produk yang membumi, dikenal oleh masyarakat, dan dipercaya kualitasnya.
Analisis Sustainabilitas Produk Pangan Halal
            Perkembangan produk pangan halal telah menjadi salah satu perhatian dunia. Keberadaannya yang menyangkut dengan syariah atau tuntutan agama membuat produk pangan halal menjadi salah satu produk penting yang harus memiliki ketahanan. Maksud dari ketahanan tersebut adalah terjaminnya integritas dan kualitas kehalalan dari produk tersebut sehingga tidak mencederai agama, serta ketersediaan pasokan yang mampu memenuhi kebutuhan umat muslim dan umat yang mempercayai produk pangan halal tersebut di seluruh dunia.
            Perkembangan produk pangan halal yang tumbuh pesat merupakan sinyal yang baik untuk mulai memasyarakatkan produk halal agar suatu saat nanti produk halal tidak hanya dianggap sebagai produk yang memenuhi standar syariah agama Islam saja, tapi memang produk yang paripurna, berkualitas, dan memiliki keunggulan dibandingkan dengan produk tanpa label halal. Oleh karena itu, sustainabilitas atau ketahanan produk pangan halal di dunia perlu dijaga dengan baik agar mampu memenuhi permintaan-permintaan konsumen dan dapat menjawab tantangan serta permasalahan pangan di dunia.
            Pada akhirnya dapat ditarik kesimpulan bahwa segala proses yang menyangkut dinamika perkembangan produk pangan halal dalam wilayah interkontinental (dalam cakupan nasional, regional, dan internasional) perlu diperhatikan dengan sangat baik melalui analisis tetra perspektif dari segi manajemen rantai suplai, ketahanan pangan, efektivitas vista, dan sustainabilitas agar suatu saat nanti produk pangan halal dapat memenuhi kebutuhan domestik dan global sebagai implikasi logis dari meningkatnya trans atau kepercayaan, kebutuhan, dan kesadaran masyarakat global mengenai pentingnya, berkualitasnya, dan baiknya produk pangan halal.
 DAFTAR PUSTAKA
 Indrajit, Richardus Eko dan Djokopranoto.(2003). Konsep Manajemen Supply Chain:Strategi Mengelola anajemen Rantai Pasokan Bagi Perusahaan Modern di Indonesia, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
[7] Indri Gautama & Djoko
Ross, F. D. (2003). Introduction to e-supply chain management:engaging technology to build market-winning businesspartnership.United States of America: ST. Lucie Press.

           





[1] Dr. Ahmad Robin Wahab, Guidelines For The Preparation Of Halal Food And Goods For The Muslim Consumers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar